Posted by : Yasep Atmaja Sabtu, 06 Juli 2013




entah mengapa aku terbangun di malam yang cukup bisu ini, membuat mata ku terbelanga ke arah jendela dengan sinar redup lampu mungil itu. ya benar, ternyata aku tidak bisa lagi memejamkan kedua kelopak mata  sederhana ku ini, insomnia kah aku? mungkin iya, mungkin juga tidak. mungkin suara perut yang menggema akal fikiran ku untuk terjaga? mungkin dinginnya sang fajar gelap yang menusuk seluruh jasad ku? atau mungkin sesuatu yang 360 derajat berbeda dari apa yang ada diakal fikiran manusia, yaitu rasa rindu merindukan genggaman halus tangannya, dekapan hangat tubuhnya, dan senyuman indah hanya miliknya. kejadian ini bermula ketika aku masih memakai seragam putih abu-abu di tahun kedua di sekolah mengah atas.

hari ini embun pagi menerpa wajah ku, seakan memberikan sinyal-sinyal pertanda akan hadirnya hari yang baru. hari yang benar-benar berbeda dari detik sebelumnya, teriakan sang penunggu fajar milik tetangga rumah ku turut mengambil sepenggal perhatian untuk ku segera menyibahkan selimut lusuh ini. aku menginjakan kedua kaki lemah tak berdaya ini kearah teras kamar yang begitu dingin, tetapi itu suatu sentuhan tersendiri agar ku dapat memulihkan kembali energi setelah tidur semalaman. aku berjalan dari ruang keruang, tak sengaja mata ini berbelok ke arah kamar ayahanda, tentu saja ayah belum terbangun dari mimpi-mimpinya. siraman menusuk dari air sejuk pagi hari membuat tubuh ini benar-benar pulih dari masa istirahatnya. membuat diri ini siap untuk melakukan hal bodoh seperti yang biasa aku lakukan di kelas.

sepertia biasa motor biru tua yang setia mengiringi perjalan punggur-kotagajah ini membuat aku tak henti-hentinya memacu adrenalin pagi dengan menancapkan gas ke putaran lebih tinggi lagi dan lagi.
"ternyata elu lagi mah."sambil membuka helm milik ku.
"ahh elu,naek motor kayak setan aje."seorang teman, atau musuh bebuyutan?
yap, syayidatul ummah namanya. teman sekelas yang berwajah bak medusa yang telah dikutuk oleh dewa. entah kenapa aku tidak pernah akur dengan wanita ini. wajahnya yang manis berubah drastis ketika kita mengenal dan menjadi sahabatnya. tak urung aku berejek-ejekan dan saling menghina dengannya, mungkin tidak hanya dengan dia tetapi dengan semua penghuni rumah keluarga ipa tiga. langkah kaki semakin terasa ringan ketika memasuki ruang kelas matematika yang terletak cukup jauh dibelakang. upacara bendera setiap hari senin selalu kami lewati. upacara yang penuh drama menurut ku, banyak yang memakai topeng dan berpura-pura sakit untuk bisa duduk santai di ruangan kecil 4x5 M berlebelkan UKS. hari yang biasa dan pelajaran yang biasa kami cerna setiap hari. tetapi satu hal dapat merubah itu semua, yaitu arti pertemanan dan persahabatan.

"gan ente punya film baru apaan nih?bagi dong?" atau "udahlah, kantin aja kita selagi guru belum masuk." kedua kalimat itu sungguh sangat tidak asing di kedua daun telinga ini. sungguh kata-kata yang sering terucap oleh kaum adam Distric A3 yang aku rindukan.

canda tawa, semua terasa sangat menyenangkan setiap harinya. konflik,saling mengejek, mencemooh, sampai kesurupan santapan biasa bagi calon anak-anak intelektual ini. bahkan aku belum melihatnya sebagai seorang yang istimewa. semua anak terlihat sama di mata ku. sangat menyenangkan dan penuh senyuman. mereka memiliki senyuman khas masing-masing. sungguh menyenangkan melihat senyum-senyum sedikit memaksa dari bocah-bocah labil ini. aku tidak tahu senyuman mereka saat ini bisa sangat aku rindukan, dan perjalanan ku untuk mengenalnya masihlah sangat panjang...

bersambung.....

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Welcome to My Blog

Statistik

Banner

Free counters!


- Copyright © Adzroo Zata -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -